1. MALANG
  2. GAYA HIDUP

4 Celetukan khas Malang paling nyebelin buat anak 90-an

Ucapan dan celetukan khas Malang seperti makmu kiper dan pi'i de po'eng merupakan beberapa kebiasaan anak 90-an yang cukup menyebalkan tapi lucu.

kota Malang tahun 90-an. ©2016 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Selasa, 17 Januari 2017 19:26

Merdeka.com, Malang - Setiap daerah dan tiap masa selalu punya celetukan dan bahasa sendiri yang khas dari masanya. Di kota Malang sendiri, terdapat banyak bahasa yang khas dan biasa dipakai mulai anak muda hingga remaja untuk mengungkapkan maksud mereka. Pada sekitar tahun 90-an karena belum banyaknya televisi swasta dan penggunaan internet yang gencar, celetukan dengan bahasa khas Malang memiliki peranan yang cukup besar sehingga kerap diucapkan sehari-hari oleh anak dan remaja pada masa itu.

Baik untuk membuat lawan bicara menjadi sebal atau karena penggunaannya yang sudah sangat berlebihan, berikut empat celetukan khas Malang paling nyebelin buat anak 90-an:

1. Angak Ho!

"Angak Ho!"
"Nyenyek Tun!"

Dua celetukan itu merupakan ucapan yang tak terpisahkan dan banyak digunakan oleh anak Malang pada tahun 90-an. Tidak jelas juga sebenarnya arti dari kata tersebut, namun ucapan tersebut biasa diucapkan untuk hal yang cukup positif dan menggoda. Biasanya ucapan ini digunakan dengan suara yang cukup keras dan pengucapan seperti berteriak layaknya sebuah yel-yel menjelang perang. Biasanya seseorang akan mengucap angak ho dan seseorang akan membalasnya dengan nyenyek tun. Suara keras dan kerapnya sahut-sahutan ucapan ini membuat celetukan ini cukup menyebalkan dan membuat telinga lelah.

2. Sikile piro?


"Ndik, umak kadit nakam a? (Ndik, apa kamu tidak makan?)"
"Nakam sikile piro?"
"Nakam pitik lak sikile loro (Makan ayam kan kakinya dua)"
"loro sikile piro?"
"wis embuh Ndik, rodok edan umak (Nggak tahu lah Ndik, agak gila kamu kayaknya)"
"Edan sikile piro?"

Celetukan sikile piro merupakan salah satu ucapan khas 90-an dari Malang yang sangat menyebalkan. Dari awal penggunaan, ucapan ini memang terasa sekali digunakan untuk membuat orang lain menjadi sebal. Cara penggunaannya cukup mudah, ketika orang lain mencoba bicara denganmu, cukup jawab dengan pertanyaan 'sikile piro (berapa jumlah kakinya)?'. Untuk setiap pertanyaan lain yang muncul teruslah jawab dengan pertanyaan 'sikile piro?' ini dan teruskan hingga lawan percakapan menjadi sebal. Dan, selamat kini kamu juga jadi orang yang menyebalkan karena berhasil menggunakannya. Sikile piro sikile piro?

3. Pi'i de po'eng


"Pri, ojok udan-udan ae, diseneni ebes lho ngkok (Pri, jangan main hujan-hujanan, nanti kamu dimarahi bapak)"
"Pi'i de po'eng"

Anak Malang memang terkenal dengan bahasa yang cukup keras dan sikap cuek yang ditunjukkannya. Salah satu ucapan yang cukup bisa menjelaskan sikap cuek anak Malang adalah penggunaan ucapan 'pi'i de po'eng' ini. Tidak ada akar dan maksud yang jelas dari munculnya ungkapan ini, namun secara arti, 'pi'i de po'eng' ini dapat bearti ketidakpedulian ataupun sikap masa bodoh yang muncul. Jadi ucapan ini biasa digunakan sebagai jawaban atas sesuatu yang diberitahukan oleh orang lain. Biasanya juga muncul varian lain untuk celetukan ini seperti 'pi'i' saja atau juga 'pi'i bapake bambang'.

4. Makmu kiper

"Makmu kiper!"
"Mbahmu striker!"
"Makmu jumping!"

Sangat sulit membayangkan ibu kita menjadi seorang penjaga gawang atau juga melakukan jumping dengan menggunakan sepeda motor trail. Namun, ucapan atau kadang menjadi umpatan seperti itu merupakan salah satu kebiasaan yang banyak digunakan oleh anak dan remaja tahun 90-an. Barangkali, ujaran seperti 'makmu kiper' dan segala variasinya ini merupakan salah satu celetukan yang paling populer digunakan. Ucapan ini biasa digunakan sebagai sebuah umpatan untuk menunjukkan ketidaksetujuan atau perasaan sebal yang muncul. Tentu saja umpatan ini cukup lucu dan penuh berisi hal-hal tidak masuk akal seperti membayangkan seorang lansia yang sedang menggiring bola dan menceploskan gol sebagai striker.

Empat kalimat tersebut merupakan ucapan yang sering diungkapkan oleh anak dan remaja di Malang tahun 90-an. Walaupun terdengar kasar, namun bahasa-bahasa tersebut sangat khas dari wilayah Malang dan bahkan beberapa masih digunakan hingga saat ini dalam percakapan dengan teman.

PILIHAN EDITOR

 

(RWP)
  1. Ngalam lawas
  2. Malang dalam Cerita
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA