1. MALANG
  2. GAYA HIDUP

Taktik bumi hangus yang meluluhlantakkan kota Malang di masa lalu

Pada Agresi Militer I, kota Malang sempat dihanguskan oleh pejuang agar tidak dapat diduduki oleh tentara Belanda.

©2016 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Kamis, 04 Mei 2017 00:44

Merdeka.com, Malang - Pertempuran habis-habisan pada masa revolusi fisik rupanya tidak hanya terjadi pada pertempuran 10 November di Surabaya atau peristiwa Bandung lautan api saja. Setiap daerah di tanah air memiliki pertempuran yang tidak kalah sengitnya termasuk di wilayah Malang.

Taktik bumi hangus untuk menghalau tentara Belanda menduduki berbagai bangunan fisik merupakan salah satu cara yang dilakukan di Malang. Taktik ini diterapkan ketika terjadinya agresi militer I atau sering juga disebut clash I pada tahun 1947.

Bumi hangus atau membakar beberapa bangunan yang strategis di kota Malang dipilih untuk menghalau Belanda menduduki secara mudah berbagai obyek vital. Pembakaran ini dilakukan di berbagai wilayah di pusat kota Malang yang pada masa lalu memang juga sudah identik dengan masyarakat Belanda.

Malang Bumi Hangus
© pusakaindonesia.perpusnas.go.id/pusakaindonesia.perpusnas.go.id

Sebut saja wilayah Kayutangan, wilayah jalan Bromo, wilayah Alun-alun serta Balai Kota Malang merupakan korban dari diterapkannya taktik ini. Untuk menghindari korban jiwa dari masyarakat bumiputera, para pejuang terlebih dahulu meminta masyarakat kota Malang untuk mengungsi ke wilayah selatan sebelum menerapkan taktik bumi hangus ini.

Dalam buku Malang Tempoe Doeloe (2006), Hedy Yudianto menyebut beberapa gedung yang menjadi korban dari aksi ini. Di antaranya adalah gedung De Javasche Bank. Balai Kota Malang, penjara Lowokwaru, pabrik gula Kebon Agung, serta beberapa bangunan lain yang dianggap vital. Bahkan seluruh jaringan air bersih, telepon, dan logistik semua juga diledakkan. Hanya jalur listrik saja yang masih tersisa dan tidak ikut diledakkan.

Malang Bumi Hangus
© pusakaindonesia.perpusnas.go.id/pusakaindonesia.perpusnas.go.id

Ketika Belanda memasuki Malang pada 31 Juli 1947, wilayah sekitar kota yang sudah terbakar di beberapa titik semakin hancur lebur. Belanda melakukan serangan udara dan membombardir kota yang memang sudah dibuat hancur ini. Hal ini ditambah masuknya pasukan darat yang juga menyerang tentara republik di Malang.

Walau sempat terjadi perlawanan yang alot dari pasukan republik, namun akhirnya Belanda berhasil menguasai kota Malang. Para pejuang serta masyarakat yang pro republik mengungsi ke wilayah sebelah selatan Malang untuk mencari wilayah yang aman dan melakukan perlawanan secara gerilya.

Agresi Militer I Malang
© antoniuscp.wordpress.com/antoniuscp.wordpress.com

Pendudukan Belanda di Malang berakhir pada 6 Februari 1948 ketika Perjanjian Renville ditandatangani. Sejak perjanjian itu, terjadi gencatan senjata antara kedua pihak dan peperangan berpindah ke atas meja diplomasi. Kota Malang yang sebelumnya sepi dan hancur mulai berangsur pulih dan kembali dibangun lagi hingga berlanjut di usianya yang sudah 103 ini.

PILIHAN EDITOR

(RWP)
  1. Sejarah Malang
  2. Ngalam lawas
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA