1. MALANG
  2. GAYA HIDUP

Pembuatan 1 kursi roda pintar untuk difabel capai puluhan juta

Harga produksi satu kursi roda pintar mencapai puluhan juta. Selain itu, masih diperlukan penyempurnaan yang bersifat pengembangan.

Kursi roda pintar untuk difabel. ©2017 Merdeka.com Editor : Siti Rutmawati | Contributor : Darmadi Sasongko | Selasa, 24 Oktober 2017 14:42

Merdeka.com, Malang - Kursi roda pintar hasil temuan Grup Riset Computer Vision Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya memang sangat dibutuhkan bagi penyandang difabel di Indonesia. Namun di sisi lain, biaya produksi untuk kursi pintar tersebut masih sangat mahal.

Koordinator Group Riset Computer Vision, Fitri Utaminingrum mengatakan, harga produksi satu kursi mencapai puluhan juta. Selain itu, masih diperlukan penyempurnaan yang bersifat pengembangan.

"Harganya lebih mahal dari kursi roda elektrik di pasaran. Salah satu penyebabnya karena menggunakan prosesor, harga prosesor Intelnuc yang digunakan sekitar Rp 9 juta," kata Fitri Utaminingrum didampingi anggota tim lain.

Harga itu di luar biaya perangkat lain, seperti inverter, accu, kursi, kamera monitor, driver, motor dan microphone.

Kata Fitri, kursi roda pintar selama ini biasanya menggunakan joystick untuk pergerakannya. Tetapi kursi roda buatannya memiliki banyak fitur, tergantung kebutuhan penyandang disabilitas penggunanya.

"Kalau menggunakan joystick harus menggunakan tangan, sehingga bagi penyandang cacat tangan tidak bisa menggunakan," katanya menunjukkan kelebihannya.

Seorang mahasiswa juga pernah menggunakan fitur dengan memasangkan elektroda di kepala. Tetapi hal itu dinilainya mengurangi kenyamanan penggunanya saat bergerak.

Kursi pintar tersebut memiliki lima fitur yakni speech recognition atau voice navigation (perintah suara), human tracking (pergerakan guide), head navigation (gerakan kepala), navigasi menggunakan handphone dan figur manual dengan menggunakan layar sentuh.

"Setiap perintah akan terintegrasi dengan motor penggerak. Tetapi kalau disabilitas itu tidak hanya cacat tangan dan kaki juga tuna wicara, maka dia tidak bisa menggunakan fitur manual layar sentuh. Ia bisa menggunakan fitur lain seperti perintah pergerakan kepala," jelasnya.

Tentunya akan disesuaikan dengan kondisi penggunanya. Kursi pintar tersebut telah menerapkan logika algoritma kelima fitur tersebut. Contohnya untuk human tracking, selama guide berada di depan camera akan meng-capture objek yang ada di depannya.

"Dengan menggunakan algoritma human tracking, ketika objek bergerak akan mengikuti. Objek, kita setting atau diregistrasi lebih dahulu. Misalnya guidenya A, maka akan mengikuti A. Tidak akan mengikuti objek lain, karena yang diregistrasi objek A," jelasnya.

Algoritma masing-masing saat ini tengah dalam proses paten agar tidak dijiplak orang lain. "Kemarin kita masih mengurus paten untuk algoritmanya, yaitu algoritmanya. Tetapi untuk integrasi terhadap satu sistem masih belum kita patenkan, rencana mau kita patenkan. Baru kalau ada industri yang berminat, harapannya bisa kolaborasi di situ," jelasnya.

Fitri mengaku untuk proses pengembangan kursi rodanya itu memakan waktu 6 bulan. Pihaknya juga masih melihat kemungkinan pengembangan diantaranya soal navigasi keberadaan, perekaman rute dan perintah dengan mata.

"Termasuk soal kenyamanan, sementara kita setting dengan kecepatan low, harusya bisa diatur kecepatannya, " katanya.

Tim Grup Riset Computer Vision Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya diketuai Fitri Utaminingrum. Sementara anggota terdiri Dahnial Syauqy, Randy Cahya Wihandika, M. Ali Fauzi, Putra Pandu Adikara, Yuita Arum Sari, Sigit Adinugroho, Tahajuda Mandariansah (Mahasiswa) dan Harits Abdurrohman (Mahasiswa).

PILIHAN EDITOR

(SR) Laporan: Darmadi Sasongko
  1. Teknologi
  2. Universitas Brawijaya
  3. Mahasiswa
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA