1. MALANG
  2. KABAR MALANG

Masyarakat Kota Malang menentang segala bentuk radikalisme dan terorisme

Pemkot Malang bersama jajaran Pimpinan Forkopimda, Kepala SKPD dan Pimpinan TNI, Polresta dan pimpinan ormas gelar apel siaga bersama.

©2018 Merdeka.com Editor : Rizky Wahyu Permana | Contributor : Darmadi Sasongko | Senin, 21 Mei 2018 14:32

Merdeka.com, Malang - Masyarakat Kota Malang menentang segala bentuk aksi berbau radikalisme dan terorisme. Aksi teror yang belakangan terjadi dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap nilai keagamaan yang universal.

Wali Kota Malang (Pjs), Wahid Wahyudi mengatakan, cara pandang bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila yang merupakan kesepakatan bersama para pendiri bangsa adalah pegangan bagi masyarakat agar dalam menjalani kehidupan ini bisa berlandaskan nilai keagamaan, kemanusiaan serta gotong royong.

"Karenanya jika ada yang keluar dari konsensus baik dari segi pemikiran apalagi tindakan adalah sebuah perlawanan terhadap negara, dan lebih dalam lagi itu merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai keagamaan yang universal," kata Wahid Wahyudi di Balaikota Malang, Minggu (20/5).

Aksi teror oleh sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab, dinilai Wahid Wahyudi, bertentangan dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan dan mencabut hakiki nilai agama yang adiluhung. Karena itu sudah sepantasnya tindakan teror dilawan, dan harus dihilangkan dari Nusantara.

Pemkot Malang bersama jajaran Pimpinan Forkopimda, Kepala SKPD dan Pimpinan TNI, Polres Malang Kota dan pimpinan organisasi masyarakat (ormas) menggelar apel siaga bersama. Apel sebagai bentuk gerakan dan deklarasi damai antiradikalisme dan terorisme digelar di Balai Kota Malang, Minggu (20/5).

Apel dinilai penting dan strategis di tengah kondisi negara yang sedang dilanda aksi teror oleh sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab. Apel siaga dan deklarasi damai digagas oleh organisasi kepemudaan.

"Apel ini juga berkaitan atau bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional karena itu mari kita jadikan ini sebagai momentum bersama untuk menjaga NKRI dan bersama menguatkan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai toleransi," bebernya.

Wahid Wahyudi juga berpesan, agar gerakan ini tidak berhenti hanya pada sikap siaga apel, melainkan perlu diikuti dan dikembangkan dalam kegiatan lanjutan. Pasalnya, radikalisme yang melahirkan tindakan teror itu berpotensi muncul di sekitar masyarakat.

"Artinya ini tidak main-main, perlu langkah sistemik yang bukan saja menjadi tanggung jawab TNI dan Polri melainkan menjadi tanggung jawab bersama," pesannya.

Deklarasi antiradikalisme dan teror dibacakan oleh Ketua Ansor Kota Malang, H. Djunaidi. Deklarasi berisi enam poin pokok yang menjadi pedoman bersama dalam mengatasi dan menanggulangi aksi radikal dan teror. Isi deklarasi tersebut di antaranya:
1. Turut berbelasungkawa atas jatuhnya korban tindakan terorisme di Mako Brimob Kelapa 2 Depok Jawa Barat, Surabaya dan Polda Riau
2. Mengutuk keras segala bentuk tindakan terorisme
3. Menolak berkembangnya faham radikal khususnya di Kota Malang.
4. Siap mendukung TNI/ Polri dalam penanggulangan radikalisme dan pencegahan aksi terorisme khususnya di Kota Malang
5. Siap melaksanakan Pilkada Wali kota dan Gubenur dengan aman dan damai
6. Siap mempertahankan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

"Apel ini sebagai bentuk kesiapan kami para pemuda, santri, Banser, dan seluruh elemen masyarakat bersama TNI-Polri untuk bersama-sama siaga menjaga Kota Malang tetap kondusif," ujar H. Djunaidi.

Ia menambahkan apel siaga ini sebagai bentuk komitmen para pemuda, santri, dan Banser untuk menjaga Kota Malang tetap kondusif dan terhindar dari paham radikalisme, aksi terorisme, ujaran kebencian, hoaks, dan segala upaya untuk memecah belah umat, umara, dan aparat keamanan. Komitmen ini juga diwujudkan melalui deklarasi bersama.

"Deklarasi ini sebagai bentuk peneguhan kami terhadap kondusifitas Kota Malang dan bersama-sama menjaga NKRI dari rongrongan pihak-pihak yang ingin mengubah negara Republik Indonesia," tandas Junaidi.

Hal senada juga disampaikan Komandan Satkorcab Banser Kota Malang, H. Sarbini. Ia mengatakan, Banser sebagai brigade benteng ulama siap bersama aparat penegak hukum menjaga keamanan Bhumi Arema.

"Bersama TNI dan Polri, Banser siap menghadapi siapapun yang membawa paham radikalisme dan terorisme masuk ke Kota Malang. Jangan sampai paham perusak bangsa itu masuk ke Bumi Arema, maka akan berhadapan dengan Banser," tandas Sarbini.

Apel diikuti 500 personel dari unsur TNI, Polri, Banser, Kokam, OKP, GM FKPPI, santri, dan elemen masyarakat lainnya. Wali Kota Malang mendapat kehormatan menjadi inspektur upacara.

PILIHAN EDITOR

(RWP) Laporan: Darmadi Sasongko
  1. Kota Malang
  2. Terorisme
  3. Pemkot Malang
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA