1. MALANG
  2. GAYA HIDUP

Singkatnya waktu libur dan biaya mahal jadi penyebab merayakan Natal di tanah rantau

Beberapa orang terpaksa tidak dapat merayakan Natal di kampung kelahiran karena biaya yang mahal dan waktu liburan yang singkat.

Ilustrasi Natal © pexels.com/pexels.com. ©2016 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Senin, 25 Desember 2017 00:47

Merdeka.com, Malang - Hari Natal adalah saat yang saat spesial bagi umat kristiani dan biasanya dirayakan dengan syahdu dan gembira bersama keluarga. Pada saat ini biasanya keluarga akan berkumpul dan merayakannya secara bersama-bersama dengan berbagai kebiasaan mereka masing-masing.

Kebahagiaan Natal bersama keluarga ini merupakan salah satu hal yang sangat ditunggu-tunggu terutama pada penghujung tahun. Namun sayangnya tak semua orang beruntung dapat merayakan Natal dengan gembira dan berkumpul bersama keluarga. Sebagian terpaksa harus merayakan natal jauh dari keluarga karena berbagai alasan.

Natanael Sepaya, merupakan salah satu orang yang harus rela untuk tidak merayakan Natal bersama anggota keluarganya. Pria asal Cimahi yang sejak kuliah hingga bekerja tinggal di Malang ini memilih untuk merayakan natal jauh dari anggota keluarganya.

"Tahun ini saya tidak pulang Natal karena uang dan waktu yang terbatas," jelas pria yang akrab disapa Natan ini.

Dia menjelaskan dengan waktu liburan yang ada ini, dia hanya bisa pulang dalam waktu yang sangat terbatas dan dia menganggap hal tersebut kurang memuaskan.

"Soalnya kalau pulang hanya seminggu kurang puas," jelasnya.

Pengalaman tidak merayakan Natal bersama keluarga ini sesungguhnya bukan pengalaman pertama bagi Natan. Dia mengaku bahwa sejak mulai bekerja tiga tahun lalu, dia tidak pernah pulang kampung ke Cimahi ketika Natal.

"Sejak mulai kerja pada 2014 akhir tidak pernah pulang," ungkapnya.

Tidak merayakan Natal di kampung halaman juga biasa dialami oleh sebagian mahasiswa yang merantau di Malang. Jarak yang jauh dan waktu tempuh yang lama menjadi kendala bagi mereka untuk bisa pulang ke kampung kelahiran terutama karena perjalanan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar.

Ficha Kusnani, mahasiswa di IKIP Budi Utomo Malang yang berasal dari Bengkayang, Kalimantan Barat menganggap bahwa biaya ini adalah penyebab utamanya tidak pulang kampung.

"Alasannya ya, terutama uang. Kasihan sama orang tua," jelas Ficha.

"Karena membutuhkan biaya banyak, saya lebih memilih untuk tetap di tanah rantauan walau saya disuruh pulang kampung oleh orang tua," sambungnya.

Walaupun tidak pulang kampung ke Bengkayang untuk saat ini namun Ficha tidak berkecil hati dan berharap dapat merayakan Natal bersama keluarganya tahun depan.

"Karena bagi saya tidak bisa tahun ini kumpul bareng Natalan bersama orang tua, tahun depan saya pasti berkumpul bersama keluarga saya," jelasnya.

Masalah waktu liburan yang sempit dan biaya yang mahal ini memang merupakan penyebab banyak orang tidak dapat pulang kampung untuk merayakan natal. Hal ini diungkapkan pula oleh mahasiswa IKIP Budi Utomo lain, Margaretha Hago asal Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Mahasiswa yang sudah tidak merayakan hari Natal di kampung halamannya sejak 2014 ini mengaku bahwa hari libur yang hanya sedikit serta biaya yang mahal menjadi penyebabnya merayakan Natal di Malang.

"Alasan nggak pulang Natal karena liburnya cuma beberapa hari," jelas Margaretha.

"Transportasi juga sangat mahal kalau hari raya," sambungnya.

Walau tak dapat pulang kampung, namun Margaretha memiliki banyak keluarga yang sama-sama tidak merayakan Natal di kampung halamannya.

"Kebetulan di Malang juga banyak keluarga yang tidak pulang ke kampung, jadi bisa Natalan bareng sama keluarga," jelasnya.

PILIHAN EDITOR

(RWP)
  1. Malang dalam Cerita
  2. Natal 2017
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA