1. MALANG
  2. KABAR MALANG

Cerita Mak Cao 32 tahun produksi cincau di Malang

©2018 Merdeka.com Editor : Rizky Wahyu Permana | Contributor : Darmadi Sasongko | Selasa, 29 Mei 2018 10:38

Pabrik cincau
© 2018 merdeka.com/Darmadi Sasongko

 

Cara dan resep leluhur masih terus dijaga oleh Hariati, karena memang sudah turun temurun. Hariati masih menggunakan blek (biasa untuk kerupuk atau minyak) sebagai cetakan cincaunya, sebagai salah satu ciri khas. Blek tersebut akan dikembalikan oleh para pembeli dan dapat digunakan lagi setelah dibersihkan.

Dia juga masih menggunakan kayu bakar dengan alasan bara apinya lebih kuat dan bertahan lama. Selain itu, jika menggunakan gas LPG harus mengeluarkan biaya lebih besar.

Dia memastikan, tidak ada bahan pengawet yang digunakan, sehingga rasa dan kualitas pun tetap seperti semula. Hariati mengaku tidak tertarik untuk menerapkan inovasi baru, sekalipun sekadar memberi warna lain agar lebih menarik. Katanya, warna hitam cincau yang legam justru sebagai ciri khasnya.

"Memang cincau ya gitu, rasanya juga gitu," tegasnya.

Sementara Sunardi menambahkan, kualitas produksi cincau juga ditentukan oleh bahannya atau daun cao yang diolah. Karena itu, keluarganya sengaja membeli daun cao dari Ponorogo, yang setiap 6 bulan diambil dalam jumlah besar.

"Kualitasnya bagus, di sana ditanam oleh petani jadi tidak takut kehabisan kalau bahan," katanya.

Daun tersebut sudah dalam kondisi kering seperti daun teh yang dapat disimpan dalam waktu yang panjang. Tinggal dimasak di air yang mendidih sekitar tujuh jam.

PILIHAN EDITOR

(RWP) Laporan: Darmadi Sasongko
  1. Kuliner
  2. Seputar Ramadan
  3. Malang dalam Cerita
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA