1. MALANG
  2. KABAR MALANG

Bunuh diri marak di kalangan mahasiswa, ini tanggapan Abah Anton!

Maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa membuat Wali Kota Malang angkat bicara. Ia meminta Perguruan Tinggi meningkatkan pendidikan agama

Wali Kota Malang, Mochammad Anton. ©2016 Merdeka.com Reporter : Siti Rutmawati | Rabu, 09 Agustus 2017 17:47

Merdeka.com, Malang - Maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa membuat Wali Kota Malang, Mochammad Anton angkat bicara. Mochammad Anton meminta agar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta di wilayahnya meningkatkan pendidikan agama. Ia menilai, kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa tidak perlu terjadi, jika faktor penyebabnya bisa diantisipasi sejak dini.

"Saya sangat prihatin dengan kasus bunuh diri yang akhir-akhir ini marak di kalangan mahasiswa. Seharusnya tidak ada lah kasus seperti ini," tutur Abah Anton, demikian biasa disapa, Selasa (8/8), dilansir Antara Jatim.

Tercatat, dalam satu hari (Senin, 7/8) dua mayat mahasiswa diduga bunuh diri ditemukan di tempat berbeda. Satu kasus bunuh diri menimpa mahasiswi Universitas Kanjuruhan (Unikama). Berdasarkan KTP, korban bernama Rensiana Jedo Wolor asal Wakatobu, Flores, NTT. Sedangkan, kasus lainnya menimpa mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) bernama Lukman Arifin. Mahasiswa asal Cimahi Jawa Barat itu, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kamar kosnya.

Menanggapi kasus tersebut, Abah Anton menyampaikan perlu adanya penguatan agama untuk membentengi mahasiswa agar terhindar dari kejadian serupa. "Permasalahan ini mestinya bisa diatasi sedini mungkin," ujarnya.

Abah Anton mendorong perguruan tinggi di wilayahnya untuk meningkatkan pemahaman dan pendidikan agama bagi mahasiswanya, sebagai bentuk benteng diri.

"Kegiatan penguatan agama ini untuk membentengi mahasiswa dari tindakan yang bisa mencelakai diri sendiri, apalagi Kota Malang dikenal sebagai kota pendidikan yang dihuni mahasiswa dari berbagai daerah," terangnya.

Ketua DPC PKB Kota Malang ini berharap, pihak kampus mau mengusut akar permasalah yang menyebabkan kejadian mahasiswanya memilih bunuh diri. Dengan demikian, kampus dapat merumuskan tindakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Kondisi seperti ini, imbuhnya, merupakan risiko Kota Malang yang menjadi miniatur Nusantara, mengingat mahasiswa dari berbagai daerah, ras, agama, suku maupun adat istiadat menjadi satu dalam lingkup kampus yang tersebar di wilayah Kota Malang. "Oleh karena itu, Pemkot Malang terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam bidang apapun. Harapan kami kasus ini adalah yang terakhir," ujarnya.

Sementara itu, psikolog dari FISIP UB, Cleoputri Al Yusainy mengemukakan, bunuh diri sulit dikaitkan dengan apapun secara gamblang. "Kita tidak bisa menebak-nebak latar belakang seseorang bunuh diri, ini sulit dan tidak bisa dikaitkan karena kondisi ini bersentuhan dengan emosi seseorang," kata Cleo.

PILIHAN EDITOR

(SR)
  1. Abah Anton
  2. Peristiwa
  3. Kota Malang
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA