1. MALANG
  2. PROFIL

Bayu Dharmasaputra Sava, CEO muda penebar virus literasi lewat Togamas

Bayu Dharmasaputra Sava di toko buku Togamas pust, Malang. ©2016 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Senin, 15 Agustus 2016 00:07

Semua hal tersebut dilakukannya bukan hanya demi kepentingan bisnis semata, namun juga untuk menjalankan visi dan misi yang dimiliki oleh Togamas sejak awal didirikan.

"Visi misi Togamas itu adalah bahu membahu membangun masyarakat berpendidikan," ujarnya.

Hal tersebut lah yang membuatnya memikirkan cara untuk memperluas distribusi buku bagi masyarakat baik dengan tangannya sendiri ataupun melalui toko milik orang lain. Selain itu beragam diskon juga membuat Togamas menjadi jujugan utama bagi mahasiswa serta pelajar untuk mencari buku.

Selain sebagai toko, Togamas juga ingin memosisikan diri sebagai ruang yang nyaman bagi bertukar pikiran. Hal itu dibuktikan dengan sebagian toko yang berlokasi lebih santai dengan menggunakan bangunan rumah serta disediakannya ruang bagi berbagai acara dan diskusi untuk perkembangan pengetahuan.

Secara lebih khusus, di masing-masing cabang Togamas, mereka juga coba mendorong industri buku lokal. Para penerbit buku indie ini disediakan ruang khusus untuk memajang dan mempromosikan buku mereka. Di cabang yogyakarta bahkan terdapat satu rak khusus yang memajang hasil produksi buku lokal.

Walaupun Togamas menggunakan sistem cabang, namun setiap toko diharuskan untuk memiliki karakter dan ciri khas sendiri. Perbedaan kondisi sosial masyarakat sekitar membuat Bayu menuntut tiap kepala toko cabang Togamas untuk berkreasi dan menyesuaikan kebutuhan dengan tokonya.

Dalam upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat, Bayu juga membawa Togamas berada di jalur yang tepat. Saat ini dia telah membuat kerjasama dengan Taman Bacaan Masyarakat di wilayah Malang Raya untuk memberi diskon tambahan bagi mereka untuk memperbanyak koleksi bacaan.

Hal-hal luar biasa yang dilakukan Bayu pada usianya yang masih 22 tahun ini disebut akan tetap terus dilakukannya di masa-masa mendatang. Bahkan dia berencana untuk semakin memperluas akses buku ke masyarakat terutama pada wialyah-wilayah luar pulau Jawa dan Bali. Hal itu yang membuatnya bermaksud melakukan ekspansi cabang ke wilayah Indonesia Timur.

Bayu mengaku tidak takut bahwa popularitas buku akan semakin menrurun seiring perkembangan teknologi. Munculnya buku elektronik yang disebut dapat mengancam kelangsungan buku cetak tidak membuatnya gentar dan takut penjualan buku akan semakin menurun.

"E-book mungkin akan berpengaruh tapi hanya sedikit. Saya lebih takut pada teknologi lain yang buat orang jadi malas untuk baca buku seperti handphone," ujar Bayu.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan, berdasar sebuah survei yang dilakukan National Literacy Trust di tahun 2013, diketahui bahwa pada anak usia sekolah, pengaruh gawai atau gadget seperti handphone ini dapat berpengaruh terhadap penurunan waktu membaca mereka. Sedangkan buku elektronik atau e-book tetap tidak mampu menggantikan buku cetak sebagai sumber utama bacaan.

Untuk mendorong minat baca ini lah, Bayu terus mendorong tersedianya buku dalam harga terjangkau agar mudah dijangkau siapa saja. Pikiran Bayu itulah yang juga terpatri di visi misi toko buku Togamas.

Kepedulian terhadap ilmu dan pengetahuan ini juga lah yang menjadi landasan Bayu terhadap konsep Merdeka yang dimilikinya. Dia beranggapan bahwa semua ilmu yang didapat dari literasi berawal dari ide dan akan menjadi berguna ketika dimanfaatkan.

"Arti merdeka adalah kebebasan berpendapat terutama untuk dunia literasi," tandasnya.

PILIHAN EDITOR

(RWP)
  1. Inspiratif
  2. Profil
  3. Tokoh
  4. Tokoh Muda
  5. Pejuang Merdeka
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA