1. MALANG
  2. KABAR MALANG

Diduga korban malapraktik, kaki anak 12 tahun jadi membusuk

Pasca operasi patah tulang, kondisi kaki SA (12) terus memburuk dan kini berubah menghitam dan mengering.

Darmadi Sasongko. ©2016 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Sabtu, 12 November 2016 18:02

Merdeka.com, Malang - Kondisi menyedihkan menimpa SA (12). Kondisi kaki kirinya terlihat menghitam mulai lutut hingga ujung jadi serta tulang kering yang terbuka dangan beberapa pen yang tertancap. Daging yang membungkus kakinya kini juga terus mengerut dan menghitam.

Dilansir dari Merdeka.com, SA diduga menjadi korban malapraktik Rumah Sakit Saiful Anwar (RSAA) Malang. Kakinya mengalami pembusukan setelah dua kali menjalani operasi akibat tertimpa sepeda motor.

Slamet (42) ayah korban mengungkapkan, luka di kaki anaknya akibat tertimpa sepeda motor. Saat itu anaknya duduk dan bercanda di atas sepeda motor, sebelum ambruk menimpa kaki kirinya hingga patah tulang.

"Hasil rontgen menunjukkan tulang di bawah lutut patah, sehingga dilakukan operasi malam itu juga," kata Slamet, Jumat (12/11).

Kejadian tersebut terjadi pada 10 Juni 2016 di depan rumahnya, jalan KH Malik Dalam RT 04 RW 07, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Saat itu, SA sempat dibawa ke RSUD Kota Malang di Gadang namun kemudian dirujuk ke RSSA dengan alasan peralatan yang tidak memadai.

Setelah dibawa ke RSSA, operasi pertama langsung dilakukan pada hari itu sekitar 21.00 WIB untuk pemasangan sejumlah pen. Namun setelah operasi ternyata kaki SA justru tak dapat digerakkan.

Slamet mengungkapkan bahwa sebelum operasi, kaki anaknya masih bisa digerak-gerakkan tetapi setelah operasi justru mati rasa. Selang empat hari kakinya melepuh dan kehitam-hitaman.

SA, bocah yang diduga korban malapraktik
© 2016 merdeka.com/Darmadi Sasongko

Karena itu seminggu kemudian, tepatnya 16 Juni 2016 operasi kedua dilakukan. Dokter menyatakan pembuluh darahnya putus sehingga harus disambung. Tetapi pascaoperasi justru yang dirasakan tidak semakin membaik meski kontrol terus dilakukan.

Saat ini, siswa kelas 5 Madrasah Ibtidayah Miftahul Ulum itu sudah sekitar tiga bulan tidak masuk sekolah. Hari-harinya hanya diisi duduk-duduk di rumah, lantaran kakinya susah untuk bergerak.

"Kalau untuk bergerak nyeri," kata SA.

Slamet yang bekerja sebagai cleaning service mengaku telah keluar biaya sebesar Rp 40 juta, walaupun masih dicover dana BPJS. Walau begitu namun ternyata kesembuhan tak juga kunjung datang pada SA, terakhir dokter malah menyarankan untuk amputasi.

Sementara itu, Direktur RSSA Malang, Restu Kurnia mengungkapkan bahwa tidak ada malapraktik sebagaimana yang dituduhkan. Proses operasi telah melalui prosedur yang sudah ditentukan. Para dokter yang melakukan operasi juga sesuai dengan keilmuan yang dimiliki.

"Yang dikerjakan sudah sesui SOP dan sesuai dengan ilmu yang didalami," katanya.

Restu berharap agar keluarga mengikuti saran dokter untuk melakukan proses amputasi. Karena secara medis, kondisi anaknya akan lebih buruk jika proses amputasi tidak ditempuh.

"Kami minta media turut mengedukasi keluarga. Kalau tidak kuman bisa menyebar. Sejak awal kita sudah melakukan optimal," katanya.

Syaifullah Asmiragani, Kepala Bidang Pelayanan Medis mengungkapkan, bahwa tidak semua cedera bisa sembuh secara sempurna. Pihaknya melakukan operasi kedua karena operasi pertama belum memberikan hasil yang baik.

"Kami sudah menjelaskan pada keluarga, kalau harus amputasi. Saat itu mendekati lebaran, sehingga keluarga pulang paksa," katanya.

Saat ini yang terjadi adalah kematian jaringan karena tidak ada darah yang mengalir. Jika kondisi tersebut dibiarkan akan membahayakan jiwanya. Kerusakan pembuluh yang dialami SA diduga karena himpitan dan tertarik. Sehingga terjadi kerusakan di juga sekitar lukanya.

Atas kondisi tersebut, Slamet telah mengadukan persoalan yang dialaminya kepada DPRD Kota Malang. Dengan didampingi sebuah LSM, Slamet juga telah melakukan pengaduan ke RSSA.

PILIHAN EDITOR

(RWP)
  1. Peristiwa
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA