1. MALANG
  2. KABAR MALANG

Jijik kena muntahan, Paini dorong balita asuhannya hingga tewas

Paini tega mendorong Anggraeni, balita asuhannya hingga tewas hanya karena jijik terhadap bekas muntahannya.

©2016 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Selasa, 16 Agustus 2016 13:06

Merdeka.com, Malang - Sebuah perbuatan kejam, tega dilakukan oleh Paini (48) terhadap Anggraeni Wulandari (4) balita asuhannya. Dilansir dari Merdeka.com, Paini tega mendorong Anggraeni hingga membentur dunia karena kepalannya terbentur kursi. Hal tersebut dilakukannya lantaran jijik terhadap muntahan Anggraeni di baju yang dikenakannya.

Awalnya Paini melaporkan bahwa Anggraeni meninggal karena terjatuh dari kursi. Namun karena pada balita malang tersebut terdapat tanda-tanda mengalami kekerasan akibat penganiayaan, polisi akhirnya mulai curiga.

Melalui penyelidikan lebih dalam, Paini akhirnya mengakui kalau Anggraeni terbentur kursi. Balita itu didorong di bagian kepala hingga terjatuh.

"Dia tiba-tiba muntah dan saya jijik dengan muntahannya. Spontan saya jundho kepala," kata Paini di Mapolres Malang.

Kasat Reskrim Polres Malang AKP Adam Purbantoro, mengatakan bahwa terdapat sejumlah bekas luka yang memperkuat keyakinan adanya kejanggalan dalam kematian korban akibat kekerasan. Pada awalnya korba dilaporkan meninggal karena terjatuh dari kursi.

"Setelah kita dalami kasusnya, ditemukan sejumlah luka di sekujur tubuh korban. Polisi menduga, tersangka sering menyiksa korban," kata Adam.

Tersangka juga diketahui sering mencubit bagian paha ketika korban mengompol. Selain itu pipi sebelah kanan korban juga digigit hingga lebam.

Akibat perbuatannya, Paini diancam Pasal 80 ayat (1) dan (3) juncto Pasal 76C Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan atau pasal 44 ayat (1) dan (3) Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Pelaku diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Paini tercatat sebagai warga Dusun Sawur, Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Bersama Miseno, suaminya, Paini sehari-hari mengasuh Anggraeni yang ditinggal orang tuanya, Rusdiana dan Agus, bekerja di Surabaya. Balita tersebut sudah dititipkan pada Paini selama lima bulan.

PILIHAN EDITOR

(RWP)
  1. Peristiwa
  2. Kriminal
  3. Kabupaten Malang
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA