1. MALANG
  2. GAYA HIDUP

Geliat pengajaran Bahasa Indonesia di luar negeri

Pada beberapa tahun terakhir, pemerintah sedang gencar mengirim pengajar bahasa Indonesia ke berbagai negara di dunia.

Prayitno Tri Laksono (kiri) ketika mengajar di Potharam Technical College Thailand.. ©2017 Merdeka.com Reporter : Rizky Wahyu Permana | Selasa, 13 Juni 2017 12:11

Merdeka.com, Malang - Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bagi ratusan bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Dengan adanya bahasa ini maka masing-masing suku yang sebelumnya berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing jadi mampu dengan mudah berkomunikasi ketika menggunakan bahasa Indonesia.

Pada saat ini, peran penting bagi bahasa Indonesia ternyata tidak hanya dirasa oleh penduduk di negara ini saja. Banyak warga negara asing yang mempelajari bahasa ini untuk berbagai macam tujuan. Bahkan saat ini beberapa negara seperti Thailand juga cukup gencar dalam mengajarkan bahasa Indonesia bagi penduduk negara mereka.

Pengajaran Bahasa Indonesia bagi orang asing ini lebih sering dikenal sebagai Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA. Pemerintah Indonesia sendiri sejak beberapa tahun belakangan memang juga sedang gencar mengirim banyak pengajar BIPA ke berbagai belahan dunia yang tertarik dan membutuhkan pembelajaran bahasa Indonesia ini. Salah satu pengajar BIPA yang berkesempatan untuk mengajar di luar negeri ini adalah Prayitno Tri Laksono (29).

Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang ini pada Juli hingga Desember 2016 lalu berkesempatan mengajar di Thailand. Dalam kesempatan tersebut dia mengungkapkan betapa besarnya pembelajaran Bahasa Indonesia di negara gajah putih tersebut.

"Bahkan di Thailand ini ada cabang APBIPA (Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing .red) pertama yang ada di luar negeri," jelas Prayitno.

Di Asia Tenggara sendiri, Prayitno menyebut bahwa Thailand merupakan negara yang paling banyak menerima pengajar Bahasa Indonesia.

"Pada waktu angkatan saya itu, sekitar 25 hingga 30 pengajar BIPA diberangkatkan ke Thailand," ujarnya.

Dalam pengajaran BIPA ini, materi yang diajarkan disebutnya sangat jauh berbeda dibanding pengajaran Bahasa Indonesia yang biasa diterima anak-anak sekolah di Indonesia. Perbedaan pebelajar disebutnya merupakan alasan yang menjadikan pembelajaran BIPA ini jadi sangat unik dan berbeda.

"Bedanya dengan pengajaran bahasa Indonesia biasa, kalau di BIPA ini mereka diajari bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua," jelas Prayitno.

"Selain itu karena mereka (pebelajar .red) baru mengenal bahasa Indonesia, jadinya butuh strategi pembelajaran yang berbeda dan harus dilihat dari asal negara serta usia," sambungnya.

Pada tugasnya di Thailand lalu, Prayitno ditempatkan pada Potharam Technical College. Walaupun sudah terbiasa mengajar BIPA ketika di Indonesia, dia menyebut bahwa ada tantangan yang berbeda ketika harus mengajar BIPA di luar negeri.

"Jadi waktu di Thailand karena siswanya rata-rata tidak bisa bahasa Indonesia, saya harus menggunakan gambar untuk mengajar. Selain itu mereka juga tidak bisa bahasa Inggris sehingga saya harus belajar bahasa lokal sedikit-sedikit untuk interaksi di kelas," papar Prayitno.

Berdasar data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2017 ini akan dikirim sebanyak 220 pengajar BIPA ke berbagai negara di seluruh dunia. Jumlah ini juga masih belum termasuk dengan pengajar BIPA yang tinggal secara permanen di berbagai negara tersebut.

PILIHAN EDITOR

(RWP)
  1. Pendidikan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA